Tampilkan postingan dengan label GADAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GADAR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2011

PELAYANAN GADAR DI PUSKESMAS

          Pelayanan Gawat Darurat di Puskesmas merupakan bagian dari sistem rujukan pelayanan kesehatan sebagai pintu pertama penurunan angka kematian dan kecacatan sehingga memerlukan sarana dan prasarana yang memadai serta keterampilan yg harus selalu ditingkatkan.
Ini kesimpulan dari hasil Pertemuan di Dinkes Sidoarjo kemarin tentang Pelayanan Gadar di Puskesmas. kalo pingin baca lebih lengkap download materinya di bawah ya...  ~.~ semoga bermanfaat.(phtrx24)

link download :

...Read More..

Minggu, 16 Oktober 2011

Obat Anti Aritmia

Aritmia merupakan abnormalitas listrik pada jantung yang dapat enyebabkan kematian mendadak pada pasien dengan penyakit PJK Pemberian terapi tidak hanya dengan membaca/membuat interpretasi EKG saja tetapi harus menilai keadaan klinis pasien secara menyeluruh. Ketidakakuratan terapi dapat terjad jika pelaku BHJL melakukan diagnosis berdasarkan ritme jantung saja dan tidak melakukan evaluasi gejala klinis pasien, seperti ventilasi, oksigenasi, detak jantung, TD, ambang batas kesadaran, Tanda-tanda lain. Keadaan asam basa (BGA) dibutuhkan juga untuk melengkapi data klinis pasien. 1. ADENOSIN Indikasi Obat utama pada takikardia dengan QRS sempit, PSVT (paroxymal Supraventrikular Tachycardia). Efektif untuk menghentikan proses masuk kembali yang terjadi pada nodus AV dan Nodus SA. Obat ini tidak mempunyai efek untuk menghentikan fibrilasi atrial, flutter atrial atau takikardia ventrikel. Efek samping dan perhatian khusus • Flushing, periode asistol atau brakikardia, ventrikular ektopi • Kurang efektif pada pasien yang mengonsumsi teofilin, jangan berikan pada pasien yang mendapat dipiridamole • Jika diberikan pada takikardia dengan QRS lebar (VT) karena dapat menyebabkan perburukan termasuk hipotensi • Periode transien sinus brakikardia dan ventrikel ektopik bisa terjadi setelah terminasi SVT Kontraindikasi • Blok AV derajat 2 atau 3 • Takikardia yang disebabkan karena obat Dosis • Letakkan pasien pada posisi trendelenberg sebelum pemberian obat • Bolus 6 mg IV cepat dalam waktu 1-3 detik diikuti bolus saline normal 20 ml, kemudian lengan diangkat • Ulangi pemberian 12 ml IV dalam 1-2 menit jika diperlukan, dapat diulangi lagi • Adenosin 12 mg IV dapat diberikan dengan jarak 1-2 menit setelah pemberian dosis kedua 2. AMIODARON Indikasi Digunakan secara luas untuk fibrilasi atrial dan takiaritmia ventrikular. Selain itu untuk mengontrol kecepatan nadi pada aritmia atrial dan pada pasien dengan funsi ventrikel kiri yang menurun jika pemberian digoksin sudah tidak efektif. Pemberian direkomendasikan pada keadaan berikut: • Pengobatan VF yang refrakter atau VT tanpa nadi • Pengobatan VT yang polimorfik dan takikardi dengan QRS lebar yang tidak jelas sumbernya • Sebagai obat pndukung pada kardioversi elektrik kasus SVT dan PVST • Takikardi atrial multifokal dengan fungsi ventrikel kiri yang baik • Mengontrol kecepatan nadi fibrilasi atrial Efek samping dan perhatian khusus • Vasodilatasi dan hipotensi • Memiliki efek inotropik negatif • Memiliki efek memperpanjang interval QT Dosis • Pada henti jantung 300 mg IV cepat (dalam panduan AHA th 2000, dianjurkan untuk diencerkan dengan 20-30 ml dekstrose 5%). Pertimbankan pemberian berikutnya sebanyak 150 mg IV dalam 3-5 menit. Dosis kumulatif maksimum 2,2 gram IV/24 jam. • Pada kompleks QRS lebar yang stabil, maksimum pemberian 2,2 gramIV/24 jam. Cara pemberian dengan bolus 150 mcg IV dalam 5-10 menit dapat diulang 150 mg IV setiap 10 menit jika diperlukan. Dilanjutkan dosis 360 mg IV selama 6 jam (1mg/menit). Dosis pemeliharaan 540 mg IV dalam 18 jam (0,5 mg/menit). Jangan diberikan secara bersamaan dengan procainamide. 3. SULFAS ATROPIN Indikasi • Obat utama pada sinus brakikardia (kelas 1). Mungkin memiliki efek pada AV blok pada level nodal (kelas 2A) atau pada asistol ventrikular. Tidak efektif pada tingkat blok infranodal (mobitz tipe 2) (kelas 2 B) • Obat pilihan kedua setelah epinefrin atau vasopressin untuk asistol , brakikardi, dan Pulseless electrical activity (kelas 2 B) Efek samping dan perhatian khusus • Hati –hati pemberian pada hipoksia dan iskemia karena iskemia dapat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard • Hindari pada bradikardia hipotermi • Tidak efektif untuk infra nodal AV blok ,dan AV blok tipe 3 dengan QRS kompleks yang lebar Cera pemberian Pada asistol atau Pulseless electrical activity 1mg IV cepat, diulangi setiap 3-5 menit. Jika asistol menetap dapat diulangi dampai mencapai dosis maksimum 0,03-0,04 mg/kgBB Pada brakikardia diberikan 0,5-1 mg IV setiap 3-5 menit sesuai kebutuhan tidak melebihi 0,04 mg/kg BB. Penggunaan dengan interval jangka pendek (3 menit) dan dosis yang lebih tinggi (0,04mg/kg BB) deberikan pada kondisi klinis yang berat. Pemberian melalui trakea dengan dosis 2-3 X dosis IV diencerkan dalam 10 ml saline normal. 4. VERAPAMIL Indikasi • Obat pliha alternatif setelah adenosine untuk menghentikan PSVT (paroxysmal supraventrikular tachycardia) dengan QRS sempit dan tekanan darah yang adekuat dan fungsi ventrikel kiri yang baik • Mengontrol respons ventrikel pada pasien dengan fibrilasi atrial, flutter atrial atau multifokal atrial takikardia. Kontraindikasi dan efek samping • Jangan digunakan pada takikardia dengan QRS kompleks yang lebar yang tidak diketahui sumbernya • Jangan diberikan pada WPW dan fibrilasi atrial, sick sinus syndrome, atau AV blok dearjat 2 dan 3 • Dapat menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan kontraktilitas miokard sehingga menyebabkan hipotensi Cara pemberian • 2,,5 – 5 mg IV bolus selama lebih dari 2 menit. Dosis berikutnya 5-10 mg IV jika diperlukan dengan interval waktu 15-30 menit dari pemberian dosis pertama. Dosis meksimum 20mg IV • Alternatif : 5 mg bolus tiap 15 menit dengan total dosis 30 mg. Pada usia lanjut obat diberikan selama lebih dari 3 menit. 5. DILTIAZEM Untuk mengontrol kecepatan nadi pada fibrilasi atrial dan flutter atrial. Dapat menghentikan re-entrant arrhytmia pada tingkat AV nodal. Digunakan setelah pemberian adenosin untuk mengibati PSVT pada pasien dengan QRS kompleks yang sempit dan tekanan darah yang adekuat. Efek samping • Jangan gunakan penghambat kanal kalsium pada QRS kompleks lebar dengan sumber yang tidak jelas atau obat-obatan yang memicu takikardia • Cegah pemberian penghambat kanal kalsium pada pasien dengan sindrom wolf-parkinson-white dengan fibrilasi atrial atau flutter atrial, sick sinus syndrome atau pasien dengan blok AV • Perhatian bahwa tekanan darah dapat menurun akibat vasodilatasi perifer Cara pemberian Untuk mengontrol denyut nadi, berikan 15-20 (0,25 mg/kg) IV selama lebih dari 2 menit. Dapat diulangi 15 menit kemudian dengan dosis 20-25 mg(0,35 mg/kg) selama lebih dari 2 menit. Dosis pemeliharaan 5-15 mg/jam, dititrasi sesuai dengan denyut nadi. Dapat deiencerkan dengan dekstrose 5% atau normal saline. 6. LIDOKAIN Indikasi Diberikan pada henti jantung dengan irama VF/VT tanpa nadi. Bisa juga diberikan pada VT stabil, dengan kompleks QRS lebar dengan tipe yang tidak jelas. Dapat diberikan melalui selang endotrakeal. Efek samping • Jika pemberian berlebihan dapat menimbulkan tanda- tanda toksisitas • Dosis dikurangi pada pasien dengan fungsi hati yang menurun, maupun fungsi ventrikel kiri yang menurun • Pemberian pencegahan pada IMA tidak dianjurkan Cara pemberian • Dosis awal 1-15 mg/kg BB IV bolus • Untuk VF refrakter :0,5 – 0,75 mg/kg IV diulangi 5-10 menit kemudian, dengan dosis maksimum 3 ml?kg BB • Dosis tunggal 1,5 mg/kg BB IV pada henti jantung • Pemberian melalui trakea 2-4 mg/kg BB Pada aritmia VT stabil , QRS kompleks lebar dengan tipe yang tidak jelas, ektopi yang signifikan, dosisnya adalah 0,5 – 0,075 mg/kg BB IV sampai 1-1,5 mg/kg BB IV diulangi setiap 5 – 10 menit dengan total dosis 3 mg/kg. Dosis pemeliharaan 1-4 mg/menit IV (30-50 ug/kg BB per menit) diencerkan dalam D5W D10W atau normal saline 7. MAGNESIUM SULFAT Indikasi • Dianjurkan pada henti jantung hanya jika terjadi Torsaides de Pointes atau hipomagnesemia • VF refrakter (setelah pemberian lidokain) • Torsaides de Pointes dengan nadi • Mengobati ventrikel aritmia yang disebabkan intoksikasi digitalis • Pemberian profilaksis pada IMA tidak dianjurkan Kontraindikasi Seringkali terjadi penurunan TD pada waktu diberikan secara tepat Hati – hati pemberian pada orang yang terkena gagal jantung Dosis • Pada henti jantung (jika terjadi hipomagnesemia) atau Torsaides de pointes • Torsaides de pointes (tanpa henti jantung) : bolus 1-2 g dicampur dalam 50-100 cc D5W selama lebih dari 5-60 menit IV. Lanjutkan dengan 0,5-1g perhari IV • IMA jika ada indikasi : bolus 1-2 g dicampur dalam 50-100 cc D5W selama lebih dari 5-60 menit IV. Lanjutkan dengan 0,5-1g perhari IV ...Read More..

Selasa, 04 Oktober 2011

drugsss......

berikut ini adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengoptimalkan curah jantung dan tekana darah,,,antara lain1. EPINEFRIN Mekanisme Kerja Epinefrin HCL merangsang reseptor α dan β adrenergik. Dominasi reseptor di pemuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi perifer yang berakibat peningkatan tekanan darah. Epinefrin mengaktivasi reseptor β1 di otot jantung, sel pacu jantung dan jaringan konduksi. Ini merupakan dasar efek iotropik dan kronotropik positif epinefrin paa jantung. Dosis • Cardac Arrest Epinefrin HCL 1mg (10 ml dari 1:10.000) bolus IV, diberikan setiap 3-5 menit, dibilas (flush) dengan 20 ml cairan IV. Dapat dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan: 1 mg dalam 250 ml NaCl 0,9% atau D5W, diberikan mulai 1 µg/ menit IV, dinaikkan 3-4 µg/ menit IV. • Non-Carsiac Arrest Epinefrin HCL 1 mg (2 ml dari 1:1000) dalam 500 ml NaCl 0,9% atau D5W, diberikan mulai 1 µg/ menit IV, dinaikkan 2-10 µg/ menit IV,sampai ada respon. 2. VASOPRESIN Mekanisme Kerja Secara alami terdapat sebagai hormon anti diuretik. Obat ini mempengaruhi reseptor µg/ menit IV, otot polos yang mengakibatkan di kulit, otot serat lintang, organ pencernaan, lemak, menimbulkan sedikit vasikonstriksi di arteri koroner dan arteri renalis dan mengakibatkan vasodilatasi arteri serebral. Vasopresin mempengaruhi katekolamin, sehingga konsumsi oksigen berkurang. Dosis 40 UI IV/ IO sekali pemberian sebagai alternatif terhadap epinefrin. 3. NOREPINEFRIN Mekanisme Kerja Sebagai vasokonstriktor dan inotropik. Mengakibatkan peningkatan atau penurunan curah jantung, tergantung resistensi pembuluh darah, fungsi ventrikel kiri dan respons refleks baroreseptor. Norepinefrin menimbulkan vasokonstriksi renal dan mesentrika. Dipakai pada hipotensi berat (TD sistolik <70 data-blogger-escaped-0="0" data-blogger-escaped-10-15="10-15" data-blogger-escaped-10-20="10-20" data-blogger-escaped-16="16" data-blogger-escaped-1="1" data-blogger-escaped-2-4="2-4" data-blogger-escaped-250="250" data-blogger-escaped-2="2" data-blogger-escaped-32="32" data-blogger-escaped-4.="4." data-blogger-escaped-5-10="5-10" data-blogger-escaped-5-20="5-20" data-blogger-escaped-5.="5." data-blogger-escaped-8-30="8-30" data-blogger-escaped-adrenergik="adrenergik" data-blogger-escaped-akan="akan" data-blogger-escaped-akibat="akibat" data-blogger-escaped-aktif="aktif" data-blogger-escaped-aktiv.="aktiv." data-blogger-escaped-akut.="akut." data-blogger-escaped-alkalin="alkalin" data-blogger-escaped-arteriol="arteriol" data-blogger-escaped-atau="atau" data-blogger-escaped-awal="awal" data-blogger-escaped-baroreseptor="baroreseptor" data-blogger-escaped-bekerja="bekerja" data-blogger-escaped-berat.="berat." data-blogger-escaped-berhati-hati="berhati-hati" data-blogger-escaped-berikan="berikan" data-blogger-escaped-bersamaan="bersamaan" data-blogger-escaped-berulang="berulang" data-blogger-escaped-besar="besar" data-blogger-escaped-bikarbonat="bikarbonat" data-blogger-escaped-bila="bila" data-blogger-escaped-bitartat="bitartat" data-blogger-escaped-boleh="boleh" data-blogger-escaped-d5w="d5w" data-blogger-escaped-da1="da1" data-blogger-escaped-da2.="da2." data-blogger-escaped-da2="da2" data-blogger-escaped-dalam="dalam" data-blogger-escaped-dan="dan" data-blogger-escaped-dapat="dapat" data-blogger-escaped-darah="darah" data-blogger-escaped-dari="dari" data-blogger-escaped-dengan="dengan" data-blogger-escaped-di="di" data-blogger-escaped-diberikan="diberikan" data-blogger-escaped-digunakan="digunakan" data-blogger-escaped-diinginkan.="diinginkan." data-blogger-escaped-dilarutkan="dilarutkan" data-blogger-escaped-dilawan="dilawan" data-blogger-escaped-dinaikkan="dinaikkan" data-blogger-escaped-disatukan="disatukan" data-blogger-escaped-dititrasi="dititrasi" data-blogger-escaped-dobutamin="dobutamin" data-blogger-escaped-dopamin="dopamin" data-blogger-escaped-dopaminergik="dopaminergik" data-blogger-escaped-dosis="dosis" data-blogger-escaped-efek="efek" data-blogger-escaped-efeknya="efeknya" data-blogger-escaped-ekstravasasi="ekstravasasi" data-blogger-escaped-epinefrin="epinefrin" data-blogger-escaped-epinferin="epinferin" data-blogger-escaped-fisiologis="fisiologis" data-blogger-escaped-gagal="gagal" data-blogger-escaped-ginjal="ginjal" data-blogger-escaped-harus="harus" data-blogger-escaped-hingga="hingga" data-blogger-escaped-hipovolemia="hipovolemia" data-blogger-escaped-inotropik="inotropik" data-blogger-escaped-isi="isi" data-blogger-escaped-iskemik.="iskemik." data-blogger-escaped-iv="iv" data-blogger-escaped-jalur="jalur" data-blogger-escaped-jantung="jantung" data-blogger-escaped-jaringan.="jaringan." data-blogger-escaped-jika="jika" data-blogger-escaped-juga="juga" data-blogger-escaped-karena="karena" data-blogger-escaped-katekolamin="katekolamin" data-blogger-escaped-ke="ke" data-blogger-escaped-keadaan="keadaan" data-blogger-escaped-kekuatan="kekuatan" data-blogger-escaped-kenaikan="kenaikan" data-blogger-escaped-kerja="kerja" data-blogger-escaped-kgbb="kgbb" data-blogger-escaped-kimia="kimia" data-blogger-escaped-kiri.="kiri." data-blogger-escaped-konsumsi="konsumsi" data-blogger-escaped-kontraktilitas="kontraktilitas" data-blogger-escaped-kuat="kuat" data-blogger-escaped-larutan="larutan" data-blogger-escaped-lewat="lewat" data-blogger-escaped-m="m" data-blogger-escaped-mekanisme="mekanisme" data-blogger-escaped-melepas="melepas" data-blogger-escaped-memberikan="memberikan" data-blogger-escaped-membuat="membuat" data-blogger-escaped-membuatnya="membuatnya" data-blogger-escaped-mempunyai="mempunyai" data-blogger-escaped-mencegah="mencegah" data-blogger-escaped-mengakibatkan="mengakibatkan" data-blogger-escaped-mengharapkan="mengharapkan" data-blogger-escaped-menghasilkan="menghasilkan" data-blogger-escaped-menimbulkan="menimbulkan" data-blogger-escaped-meningkatkan="meningkatkan" data-blogger-escaped-menit="menit" data-blogger-escaped-merangsang="merangsang" data-blogger-escaped-mg="mg" data-blogger-escaped-miokardium="miokardium" data-blogger-escaped-mirip="mirip" data-blogger-escaped-ml="ml" data-blogger-escaped-mmhg="mmhg" data-blogger-escaped-mningkatkan="mningkatkan" data-blogger-escaped-nacl="nacl" data-blogger-escaped-nekrose="nekrose" data-blogger-escaped-netrikus="netrikus" data-blogger-escaped-norepinefrin="norepinefrin" data-blogger-escaped-oemberiannya.="oemberiannya." data-blogger-escaped-oksigen="oksigen" data-blogger-escaped-oleh="oleh" data-blogger-escaped-oliguria="oliguria" data-blogger-escaped-orang="orang" data-blogger-escaped-pada="pada" data-blogger-escaped-pasien="pasien" data-blogger-escaped-pemberian="pemberian" data-blogger-escaped-pembuluh="pembuluh" data-blogger-escaped-penggunaannya="penggunaannya" data-blogger-escaped-pengisian="pengisian" data-blogger-escaped-penurunan="penurunan" data-blogger-escaped-penyakit="penyakit" data-blogger-escaped-perifer="perifer" data-blogger-escaped-phenotalamie="phenotalamie" data-blogger-escaped-prekursor="prekursor" data-blogger-escaped-refleks="refleks" data-blogger-escaped-rendah.="rendah." data-blogger-escaped-renosplanik="renosplanik" data-blogger-escaped-reseptor="reseptor" data-blogger-escaped-resistensi="resistensi" data-blogger-escaped-respon="respon" data-blogger-escaped-sampai="sampai" data-blogger-escaped-saraf="saraf" data-blogger-escaped-sebagai="sebagai" data-blogger-escaped-secara="secara" data-blogger-escaped-sedangkan="sedangkan" data-blogger-escaped-segera="segera" data-blogger-escaped-sehingga="sehingga" data-blogger-escaped-sekuncup="sekuncup" data-blogger-escaped-sering="sering" data-blogger-escaped-setara="setara" data-blogger-escaped-simpul="simpul" data-blogger-escaped-sintesis="sintesis" data-blogger-escaped-sistemik.="sistemik." data-blogger-escaped-sistolik="sistolik" data-blogger-escaped-spesifik="spesifik" data-blogger-escaped-splanikus.="splanikus." data-blogger-escaped-syok="syok" data-blogger-escaped-tanpa="tanpa" data-blogger-escaped-tekanan="tekanan" data-blogger-escaped-tergantung="tergantung" data-blogger-escaped-terhadap="terhadap" data-blogger-escaped-terjadi="terjadi" data-blogger-escaped-tetap.="tetap." data-blogger-escaped-tetapi="tetapi" data-blogger-escaped-tidak="tidak" data-blogger-escaped-total="total" data-blogger-escaped-tua="tua" data-blogger-escaped-untuk="untuk" data-blogger-escaped-vaskular="vaskular" data-blogger-escaped-vasodilatasi.="vasodilatasi." data-blogger-escaped-vasodilatasi="vasodilatasi" data-blogger-escaped-vasokonstriksi="vasokonstriksi" data-blogger-escaped-ventrikel="ventrikel" data-blogger-escaped-vesodilatasi="vesodilatasi" data-blogger-escaped-yang="yang">20 µ/kgBB/menit( >40 µ/kgBB/menit akan toksik) 6. AMRINONE DAN MILRINONE Mekanisme Kerja Keduanya merupakan penghambat fosfodisterase III. Amrinone mempengaruhi preload efek terhadap hemodinamik seperti dobutamin. Sering dipakai pada gagal jantung berat ataupun syok kardiogenik; tidak direkomendasikan untuk kasus penyakiy jantung katup. Dosis Amrinone: 0,75 mg/kg BB diinjeksikan selama 2-3 menit IV, dapat diulang 30 menit kemudian, dosis pemeliharaan -15 µ/kgBB/menit IV. Milrinone : 50 µ/kgBB diinjeksikan IV lebih dari 10 menit, dosis pemeliharaan 0,375- 0,750 µ/kgBB/menit selama 2-3 hari. Pada pasien gagal ginjal dosis disesuaikan. 7. KALSIUM Mekanisme Kerja Berpearan penting dalam kontraktilitas miokardium dan pembentukan impuls listrik. Keadaan yang memerlukan kalsium seperti hiperkalemia, hipokalsemia keracunan antagonis kalsium. Dosis 2-4 mg/kg BB – 10% CaCl2, dapat diulang setiap 10 menit. 8. DIGITALIS Mekanisme Kerja Menurunkan ventrikular rate pada fibrilasi atrial atau atrial flutter. Keracnan digitalis dapat mengakibatkan aritmia ventrikular sampai henti jantung. Dosis Bolus 0.5 mg IV, dapat diulang 4 jam kemudian dengan dosis 0,25 mg IV, sampai tercapai efek digitalis, atau dosis total telah mencapai 1,25 mg/24 jam IV 9. NITROGLISERIN Mekanisme Kerja Nitrat menimbulkan relaksasi otot polos vaskular, sehingga tidak boleh diberikan pada pasien dengan Iinfark Miokard ventrikel kanan yang sangat tergantung pada preload Dosis Nitrogliserin 0,3 – 0,4 mg SL, dapat diulang 3-5 menit kemudian bila angina belum hilang, pemberian ulangan bisa sampai 3 kali(3 tablet). Nitrogliserin 10-20 Mcg/menit IV, dinaikkan 5-10Mcg/menit setiap 5-10 menit sampai keluhan angina hilang. Pada dosis rendah (30-40 Mcg/menit) mengakibatkan venodilatasi, sedangkan pada dosis tinggi (150-500 Mcg/ mneit) menimbulkan arteriolar dilatasi. 10. SODIUM NITROPRUSID Mekanisme Kerja Merupakan vasodilator perifer yang kuat, digunakan pada gagal jantung berat dan hipertensi emergensi. Efek venodilatasi mengurangi pengisian ventrikel kiri (preload), sehingga memperbaiki edema paru dan mengurangi tekanan dan volume ventrikel kiri. Sedangkan efek arteriol dilatasi menurunkan resistensi vaskular perifer (afterload), meningkatkan pengosongan fase sisitolik dengan mengurangi volume ventrikel kiri dan tekanan dinding serta mengrangi konsumsi oksigen miokard. Bila volume intravaskular normal atau tinggi, maka pengurangan resistensi vaskular perifer akan disertai peningkatan isi sekuncup, dengan sedikit penurunan tekanan darah sistolik. Tetapi bila hipovolemik,akakn terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan disertai refleks takikardi. Pemakaian nitroprussid pada gagal jantung berat akibat regurgutasi katup mitral/aorta bermanfaat untuk mengurangi volume regurggitan, sedangkan pada hipertensi dan penyakit jantung iskemik dapat mengurangi tekanan dinding dan beban kerja miokard. Dosis 0,1-5 Mcg/kg BB/ menit IV , dapat dititrasi sampai 10 Mcg/kg BB/menit IV 11. SODIUM BIKARBONAT Mekanisme Kerja Sodium bikarboonat mengatasi asidosis jaringan dan asidosis selama henti jantung maupun resusitasi (akibat rendahnya perfusi jaringan). Untuk menguatkan ventilasi alveolar dan mengembalikan perfusi jaringan, pertama-tama dilakukan kompresi dada, dilanjutkan mengembalikan sirkulasi spontan secara cepat. Dosis 1mg/kgBB IV bolus 12. DIURETIK Mekanisme Kerja Furosemid merupakan diuretik yang kuat yang menghambat reabsorpsi natrium di tubulus renal proksimal dan distal, serta loop henle. Kerja furosemid sekitar 5 menit, tetapi produksi urin terjadi lebih dari 5 menit. Dosis 0,5-1 mg?kgBB, diinjeksikan pelan. ...Read More..

Kamis, 22 September 2011

RJP dan EKG


Kapan Memulai RJP
Berbeda dengan penanganan medis yang lain,RJP bisa dimulai tanpa adanya instruksi dokter. Artinya siapapun yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan resusitasi dapat memulai RJP ketika berhadapan dengan kasus henti jantung. Namun, penolong juga harus mengetahui beberapa keadaan sehingga RJP tidak perlu dilakukan, antara lain:
·         Keadaan henti jantung yang disaksikan
Jika kita mneyaksikan sendiri terjadinya henti jantung, sudah seharusnya segera memulai RJP. Namun ada beberapa keadaan seperti berikut yang mendasari RJP tidak perlu dimulai:
o   Ada bukti permintaan keluarga
o   Usaha RJP akan membahayakan orang yang menolong
o   Kemungkinan RJP dapat mengembalikan sirkulasi spontan sangat kecil
o   Henti jantung yang terjadi pada suatu penyakit terminal yang telah diterapi secara maksimal
·         Keadaan henti jantung yang tidak disaksikan
Penolong tidak mengetahui berapa lama terjadinya henti jantung itu sudah berlangsung. Untuk hal seperti ini kita tidak perlu melakukan RJP kalau mendapati keadaan sebagai berikut:
o   Ada tanda kematian yang tidak berubah seperti rigor mortis atau lebam mayat
o   Sudah mulai ada tanda- tanda pembusukan
o   Penderita mengalami trauma yang tidak bisa diselamatkan, seperti hangus terbakar, dekapitasi atau hemikorporektomi.
Kapan Menghentikan RJP
Ada beberapa alasan alasan kuat bagi penolong untuk menghentikan RJP antara lain:
·         Penolong sudah melakukan bantuan hidup dasar dan lanjut yang optimal yang termasuk:RJP, defibrilasi pada pasien dengan VF/VT tanpa nadi, vasopresin atau epinefrin inravena, membuka jalan napas, ventilasi dan oksigenasi yang menggunakan bantuan jalan napas tingkat lanjut dan semua pengobatan irama yang sesuai sudah dilakukan.
·         Penolong sudah mempertimbangkan apakah pada pasien terdapat hipotermia. Penolong sudah menetapkan ada atau tidaknya hipotermia dengan mengukur suhu tubuh.
·         Penolong sudah mempertimbangkan apakah pasien terpapar bahan beracun atau mengalami overdosis obat yang akan menghambat sistem syaraf pusat.
·         Penolong sudah merekam melalui monitor adanya asistol yang menetap selama 10 menit atau lebih.
·         Interval waktu usaha resusitasi pada henti jantung disaksikan yang tidak berhasil mengembalikan sirkulasi spontan adalah 25 sampai 30 menit.
Implementasi penghentian usaha resusitasi:
·         Asistol yang menetap lebih dari 10 menit adalah batas waktu mengakhiri intervensi BCLS
·         Waktu yang direkomendasikan sebagai interval waktu maksimum untuk melakukan usaha resusitasi pada henti jantung yang disaksikan yang gagal mengembalikan sirkulasi spontan adalah 25 sampai 40 menit dari awal dimulainya resusitasi.
·         Penilaian klinis selalu menjadi patokan. Pada saat kejadian,pembuat keputusan klinis boleh melanjutkn resusitasi, mencoba lebih lama atau lebih singkat dari 25 sampai 30 menit.
·         Secara etik, penolong RJP selalu mnerima keputusan klinis yang layak untuk memperpanjang usaha pertolongan (misalnya oleh karena konnsekuensi psikologis dan emosional). Juga menerima alasan klinis untuk mengakhiri resusitasi dengan segera (misalnya oleh karena kecil kemungkinan dapat hidup atau trauma mutilasi)
·         Bertambahnya waktu setiap menit berhubungan dengan menurunnya kemungkinan keberhasilan resusitasi. Perkiraan kemungkinan kberhasilan resusitasi dan pulang kerumah,mulai dari 60 sampai 90% dan menurun sacara jelas 3 sampai 10 % setiap menitnya.
Tindakan RJP pada asistol bisa lebih lama pada:
·         Usia muda
·         Asistol menetap kerana toksin atau golongan elektrolit
·         Ada hipotermia
·         Overdosis obat
·         Usaha bunuh diri
·         Permintaan keluarga
·         Korban tenggelam di air dingin
MENGENAL IRAMA HENTI JANTUNG PADA EKG
FIBRILASI VENTRIKEL
Patofisiologi
Dapat terjadi pada ventrikel yang memiliki beberapa daerah miokard normal yang diselingi oleh daerah miokard miokard yang iskemik,cedera, atau infark, yang dapat menyebabkan terjadinya pola depolarisasi dan repolarisasi ventrikel yang tidak sinkron dan kacau. Tanpa adanya depolarisasi ventrikel yang teratur, ventrikel tidak dapatberkontraksi sebagai satu kesatuan dan tidak menghasilkan curah jantung (cardiac output). Jantung hanya beretar dan tidak memompa darah.
Kriteria  Penentu  berdasarkan EKG
·         Nilai/kompleks QRS: tidak dapat ditentukan; tidak ada gelombang P, QRS atau T yang dapat dikenali. Gelombang pada garis dasar terjadi antara 150 dan 500 permenit.
·         Irama: tidak dapat ditentukan; pola naik (puncak) dan turun (palung) yang tajam.
·         Amplitudo: diukur dari puncak ke palung; biasa digunakan secara subyektif untuk menggambarkan VF sebagai halus (puncak ke palung 2 sampai <5mm), medium atau sedang (5 sampai <10mm), kasar (10 sampai <15mm) atau sangat kasar(>15mm)
Manifestasi Klinis
·         Denyut nadi menghilang dengan dimulainya VF. Denyut dapat menghilang sebelum dimulaiya VF bila suatu pertanda lazim bagi   VF(VT yang cepat) terjadi sebelum VF.
·         Jatuh pingsan, tidak dapat memberi respons
·         Megap-megap, sangat sulit bernapas, lalu berhenti bernapas
·         Mulai terjadi kematian yang tidak dapat balik/ irreversibel
Etiologi
·         Sindroma koroner akut yang menimbulkan daerah iskemik pada miokard
·         VT stabil hingga tidak sabil, tidak diobati
·         Beberapa obat, imbalance elektrolit atau ketidaknormalan asam basa yang memperpanjang periode refrakter relatif
·         Perpanjangan QT primer atau sekunder
·         Kematian karena listrik, hipoksia,dll.
Pulseless Electrical Activity /PEA (aktivitas listrik tanpa denyut)
Patofisiologi
Suatu keadaan klinis tidak ada nadi sedangkan impuls konduksi jantung masih ada dan dalam pola yang saharusnya dapat menghasilkan nadi. Disebabkan aktivitas listrik jantung tidak menghasilkan kontraksi miokard atau pengisian ventrikel yang tidak memadai saat diastol atau kontraksi yang tidak efektif. Ventrikel masih berkontraksi namun tidak cukup kuat menimbulkan pulsasi sampai ke pembuluh darah.
Kriteria Penentu berdasarkan EKG
·         Irama menunjukkan aktivitas listrik/depolarisasi ventrikel (tapi bukan VF/VT tanpa dneyut)
·         Umumnya tidak seteratur irama sinus normal
·         Dapat sempit(QRS <0,10 mm) atauu lebar (QRS > 0,12 detik) cepat (> 100 per menit) atau lambat (60 permenit)
·         Dapat lambat (etiologi non jantung) atau lebar (seringkali etiologi jantung) dan dapat lambat (etiologi jantung) atau cepat (seringkali etiologi non jantung)
Manifestasi Klinis
·         Jatuh pingsan, tidak dapat memberi respon
·         Megap-megap, sangat sulit bernapas,lalu henti napas
·         Tidak ada denyut yang dapat dideteksi melalui palpasi (adanya tekanan darah yang sangat rendah masih mungkin terjadi pada kasus yang disebut pseudo –PEA)
Etiologi
·         Hipovolemia
·         Hipoksia
·         Hydrogen ion (asidosis)
·         Hipo/hiperkalemia
·         Hipoglikemia
·         Hipotermia
·         Toksin (“tablet”, contohnya overdosis obat,salah cerna)
·         Tamponade jantung
·         Tension pneumotorax
·         Trombosis (koroner SKA) atau paru (emboli paru)
·         Trauma
ASISTOL
Kriteria penentu berdasarkan EKG
Secara klasik asistol ditampilkan sebagai suatu “garis datar”; secara virtual tidak ada kriteria penentu.
Kecepatan: tidak terlihat adanya aktivitas ventrikel atau ≤6 kompleks permenit; apa yang dinamakan “asistol gelombang P” erjadi dengan hanya terdapat impuls atrium (gelombang P).
·         Irama :tidak terlihat adanya aktivitas ventrikel atau ≤6 kompleks QRS permenit
·         PR: tidak dapat ditetapkan; terkadang terlihat adanya gelombang P, tetapi berdasarkan definisinya gelombang R harus tidak tampak.
·         Kompleks QRS: tidak terlihat defleksi yang konsisten dengan suatu kompleks QRS
Manifestasi Klinis
·         Dapat mengalami megap-megap, sangat sulit bernapas (pada saat awal) lalu henti napas, tidak dapat memberikan respons
·         Tidak adanya denyut atau tekanan darah
·         Henti jantung
Etiologi yang lazim
·         Akhir dari kehidupan
·         Iskemia/hipoksia dari banyak penyebab
·         Gagal napas akut (tidak ada oksigen,apnea, asfiksia)
·         Kejut listrik tingkat tinggi
·         Dapat menunjukkan “pingsan jantung” segera setelah defibrilasi sebelum dimulainya irama spontan
MENGENAL IRAMA NON HENTI JANTUNG PADA EKG
1.       TAKIARITMIA SUPRAVENTRIKEL
a)       Takikardia Sinus
Patofisiologi
·         Tidak ada. Takikardia sinus lebih merupakan tanda fisik daripada suatu aritmia atau kondisi patologis.
·         Pembentukan dan konduksi impuls normal
Kriteria penentu dan ciri- ciri EKG
·         Kecepatan: >100 permenit
·         Irama : sinus
·         PR: biasanya <0.20 detik
·         P untuk setiap kompleks QRS
·         Kompleks QRS: normal
Manifstasi Klinis
·         Tidak ada yang spesifik untuk takikardia
·         Gejala dapat timbul akibat penyebab takikardia (demam,  hipovolemia)
Etiologi yang lazim
·         Aktivitas fisik
·         Demam
·         Hipovolemia
·         Stimulasi adrenergik, ansietas
·         Hipertiroidisme
b)       Fibrilasi Atrium dan Flutter Atrium
Patofisiologi
·         Impuls atrium lebih cepat dari impuls nodus SA
·         Fibrilasi atrium: impuls mengambil jalur yang beraneka ragam, kacau dan acak melalui atrium
·         Flutter atrium: impuls mengambil jalur melingkar mengelilingi atrium, sehingga menimbulkan gelombang flutter
Kriteria penentu dan ciri –ciri EKG
Fibrilasi Atrium
Kunci Fibrilasi Atrium: suatu aksioma klinis yang klasik “irama yang sangat tidak teratur, secara tidak reguler, dengan variasi pada interval dan amplitudo dari gelombang R adalah fibrilasi atrium”. Keadaan ini juga dapat diamati pada takikardia atrium multifokal (multifokal atrial tachycardia /MAT).
Kecepatan
·         Kecepatan respons ventrikel terhadap impuls dari atrium memiliki rentang yang luas
·         Dapat cepat, normal atau lambat bila konduksi nodus AV tidak normal (misalnya ‘sindroma sinus sakit”)
Irama :tidak teratur
Gelombang P
·         Hanya ada gelombang fibrilasi atrium yang kacau
·         Membuat garis dasar yang berubah-ubah
Flutter Atrium
Kunci Flutter atrium: gelombang flutter dalam pola “gigi gergaji’ yang klasik
Kecepatan
·         Kecepatan atrium 220 hingga 350 permenit
·         Respons ventrikel merupakan suatu fungsi blok nodus AV atau konduksi impuls atrium.
·         Respons ventrikel jarang >150 sampai 180 denyutan karena dibatasi oleh konduksi nodus AV
Irama
·         Reguler (tidak seperti fiblrilasi atrium)
·         Irama ventrikel seringkali reguler
·         Menetapkan rasio terhadap irama atrium, misalnya 2- terhadap -1 atau 4-terhadap-1
Gelombang P
·         Tidak terlihat adanya gelombang P yang sejati
·         Gelombang flutter dalam pola “gigi gergaji” adalah hal klasik
PR : tidak dapat diukur
QRS: tetap ≤0.10 hingga 0.12 detik kecuali bila kompleks QRS dibelokkan oleh fibrilasi atau flutter atau oleh kerusakan konduksi melalui ventrikel
Menifestasi Klinis
·         Tanda –tanda dan gejala tergantung respons kecepatan ventrikel terhadap gelombang fibrilasi atrium “fibrilasi atrium dengan respons ventrikel yang cepat” dapat ditandai dengan terjadinya dispnea saat aktivitas (dyspnea on exertion/DOE), sesak napas (shortness of breath/SOB) dan terkadang edema  paru akut.
·         Hilangnya kontraksi atium (atrial kick) dapat menyebabkan penurunan curah jantung dan berkurangnya perfusi koroner
·         Irama yang tidak teratur sering dirasakan sebagai “palpitasi”
·         Dapat tidak menampakkan gejala sama sekali
Etiologi yang lazim
·         SKA, penyakit pembuluh darah  koroner, gagal jantung kongestif
·         Penyakit pada katup mitral atau trikuspid
·         Hipoksia, emboli paru akut
·         Disebabkan oleh obat: digoksin atau kuinidin; agonisß; teofilin
·         Hipertensi
·         hipertiroidisme

2.       TAKIARITMIA VENTRIKEL
VT MONOMORFIK
Patofisiologi
·         Konduksi impuls ventrikel melambat di sekitar daerah yang mengalami cedera, infark atau iskemia ventrikel
·         Daerah ini juga berfungsi sebagai sumber impuls ektopik (irritable foci)
·         Daerah yang cedera ini dapat menyebabkan impls mengambil jalur melingkar sehingga menyebabkan terjadinya fenomena reentry dan depolarisasi repetitif yang cepat.
Kriteria penentu berdasarkan EKG
Kunci : morfologi atau bentuk yng sama, terlihat dalam setiap kompleks QRS
Catatan : 3 atau lebih PVC berturut-turut mengindikasikan VT
·         Durasi VT < 30 detik adalah VT yang tidak berkepanjangan (non-sustained VT)
·         Durasi VT > 30 detik adalah VT yang berkepanjangan (sustained VT)
Ø  Kecepatan : kecepatan ventrikel >100 permenit, khususnya 120 hingga 250 permenit
Ø  Irama : irama ventrikel regular
Ø  PR : tidak ada (pada VT terdapat disosiasi atrioventrikular /AV)
Ø  Gelombang P : jarang terlihat namun ada, VT merupakan suatu bentuk disosiasi AV. Pada takikardi kompleks QRS lebar, disosiasi AV merupakan suatu karakteristik penentu yang membedakan VT dengan takikardia supraventrikular aberen (terdapat penyimpngan konduksi intraventrikel sehingga timbul kompleks QRS lebar)
Ø  Kompleks QRs : lebar dan aneh, kompleks “seperti PVC >0.12 detik, dengan gelombang T yang besar dan memiliki polaritas yang berlawanan dengan QRS.
Ø  Fusion beat. Kadang tertangkap akibat gelombang P yang terkonduksi. Menghasilkan kompleks ‘hibrida” QRS, sebagian normal sebagian ventrikular.
Ø  VT yang tidak berkepanjangan berlangsung selama <30 detik dan tidak membutuhkan intervensi.
Menifestasi Klinis
·         Secara khas terjadi gejala penurunan curah jantung (ortostatis, hipotensi, sinkop, keterbatasan aktivitas)
·         VT monomorfik dapat bersifat asimtomatis walaupun pada umumnya VT yang berkepankangan selalu menunjukkan gejala
·         VT yang tidak ditangani dan berkepanjangan akan memburuk menjadi VT yang tidak stabil, seringkali menjadi VF

Etiologi yang lazim
·         Suatu kejadian iskemik akut dengan daerah- daerah “irritabilitas ventrikel” yang menyebabkan terjadinya PVC
·         PVC yang terjadi selama periode refrakter relatif dari siklus jantung (fenomena R pada T)
·         Interval QT memanjang yang disebabkan oleh obat (antidepresan trisiklik, prokainamid, digoksin, beberapa antihistamin yang bekerja dalam jangka panjang
VT POLIMORFIK
Patofisiologi
·         Konduksi impuls melambat di sekitar daerh yang mengalami cedera, infark atau iskemia ventrikel
·         Daerah ini juga berfungsi sebagai sumber impuls ektopik; sumber impuls ektopik terjadi di beberapa daerah pada ventrikel dan oleh sebab itu disebut “polimorfis”.
·         Daerah yang cedera ini dapat menyebabkan impuls mengambil jalur melingkar, menyebabkan terjadinya fenomena reentry dan depolarisasi repetitif yang cepat
Kriteria penentu berdasarkan EKG
Kunci: veriasi dan ketidak konsistenan pada kompleks QRS
·         Kecepatan: kecepatan ventrikel >100 permenit; khususnya 120 hingga 250 permenit
·         Irama : hanya irama ventrikel
·         PR tidak ada’
·         Gelombang P: jarang terlihat tetapi ada, VT merupakan suatu bentuk disosiasi AV
·         Kompleks QRS : variasi dan ketidakkonsistenan yang dapat dilihat pada kompleks QRS
Manifestasi Klinis
·         Secara khas akan cepat memburuk manjadi VT tanpa denyut atau VF
·         Terjadi gejala penurunan curah jantung
·         Jarang terjadi VT yang berkepanjangan
Etiologi yang lazim
·         Kejadian iskemik akut dengan daerah- daerah “iritabilitas ventrikel”
·         PVC yang terjadi selama periode refrakter relatif silkus jantung
·         Interval QT memanjang yang disebabkan oleh obat
·         Sindroma interval QT
TORSAIDES DE POINTES
Patofisiologi
·         Interval QT panjang secara abnormal
·         Menyebabkan peningkatan periode refrakter relatif (periode yang rentan/ vulnerable period) dari siklus jantung. Hal ini menyebabkan probabilitas terjadinya irritable focus PVC pada gelombang T
·         Fenomena R pada T seringkali menyebabkan VT
Kriteria penentu berdasarkan EKG
Kunci: kompleks QRS menunjukkan suatu pola ‘kumparan nodus”, dimana amplitudoo VT meningkat dan kemudian menurun dalam suatu pola yang reguler (membentuk kumparan). Pembelokan awal pada permulaan suatu polaritas kumparan akan diikuti kompleks yang berlawanan atau pembelokan pada permulaan kumparan berikutnya.
·         Kecepata atrium: tidak dapat ditentukan
·         Kecepatan ventrikel;: 150-250 kompleks/menit
·         Irama : hanya irama ventrikel regular
·         PR tidak ada
·         Gelombang P tidak ada
·         Kompleks QRS menunjukkan pola kumparan nodus yang klasik
Manifestasi Klinis
·         Cenderung memburuk secara tiba- tiba menjadi VT tanpa nadi atau VF
·         Gejala yang khas dari pnurunan curah jantung
·         Torsaides yang “stabil”, torsaides yang erepanjangan tidak uum terjadi
·         Diatasi dengan kejut energi tinggi yang tidak disinkronisasi (defibrilasi)
Etiologi yang lazim
Paling banyak terjadi pada pasien dengan interval QT yang diperpanjang
3.       BRADIKARDIA SINUS
Patofisiologi
·         Impuls berasal dari nodus SA, frekueansi rendah
·         Dapat bersifat fisiologis
·         Dapat berupa suatu tanda fisik,seperti pada takikardia sinus
Kriteria penentu berdasarkan EKG
·         Kunci: gelmbang P reguler diikuti oleh kompleks QRS reguler, dengan kecepatan <60 permenit
·         Kecepatan <60 permenit
·         Irama sinus reuler
·         PR reguler <0.20 detik
·         Gelombang P: ukuran dan bentuk normal, setiap gelombang P diikuti oleh suatu kompleks QRS ,setiap kompleks QRS didahului oleh suatu gelombang P
·         Kompleks QRS sempit;≤ 0,10 detik ketika tidak ada kerusakan konduksi intraventrikel
Manifestasi Klinis
·         Uumnya tidak menunjukkan gejala pada saat istirahat
·         Dengan peningkatan aktivitas dan disfungsi nodus sinus, kecepatan rendah yang berlangsung terus menerus dapat menyebaban timulnya gejala berupa mudah lelah, nafas tersengal-sengal,pening atau pusing, sinkop, hipotensi.
Etiologi yang lazim
·         Dapat normal pada orang dengan kondisi yang baik
·         Kejadian vasovagal seperti muntah, maneuver valsava, stimuli rectal, tekanan yang kurang hati-hati pada sinus carotid
·         SSKA yang mempengaruhi sirkulasi ke nodus SA (pembuluh darah koroner kanan); paling sering mempengaruhi pada SKA inferior
·         Efek samping obat ,contohnya pegahambatß, penghambat kanal kalsium, digoksin, kuinidin


...Read More..