Sabtu, 18 Februari 2012
Jumat, 17 Februari 2012
penatalaksanaan terapi oksigen
penatalaksanaan terapi oksigen pada pasien...kebutuhan oxygen untuk kehidupan sel-sel yang mempertanggung jawabkan sempurnanya fungsi organ dapat terjamin.
KONDISI YANG MEMERLUKAN OXYGEN
Sumbatan Jalan Nafas
Henti Nafas
Henti Jantung
Nyeri Dada
Trauma Thorax
Tenggelam
Hypoventilasi ( RR < 10x /mx )
Distress Nafas
Hipertermi
Shock
Keracunan gas, CO
Pasien tidak sadar
PERALATAN OKSIGEN
• Nasal Kanula
• Face Mask
• Partial Rebreathing Mask
Ventury Mask
• Bag Value Mask
• Flow Meter ( Regulator )
• Oksigen
MACAM ALAT BANTU JALAN NAFAS
• OROPHARYNGEAL (MOYO)
• NASOPHARYNGEAL
• ENDOTRACHSAL TUBE ( ETT )
ALAT UNTUK POSIVE PRESSURE
• BAG VALVE MASK
• JACKSON REES
• VENTILATOR / RESPIRATOR
TERAPI OKSIGEN
INDIKASI
• Pada penurunan Pa O2 dengan gejala + tanda hipoksia, dispnoe, takhipnoe, disorientasi, gelisah, apatis atau penurunan kesadaran, takhikardia / bradikardia
• Pada Keadaan Lain :
Gagal nafas akut, Shock, Keracunan Co
METODE PEMBERIAN OKSIGEN
1. SISTEM ALIRAN DARAH
a. Low Flow Concentration
• Kateter Nasal
• Kanule Nasal / Nasal Prong
b. Low High Concentration
• Sungkup muka sederhana
• Sungkup muka dengan kantong rebreathing
• Sungkup muka dengan kantong non rebreathing
KATETER NASAL :
1. SISTEM ALIRAN TINGGI
a. High Flow Low Concentration
Sungkup ventury
b. High Flow High Concentration
Head Box
Sungkup
CPAP
KEUNTUNGAN :
• Pemberian Oksigen Stabil
• Pasien bebas bergerak / bicara, makam minum
• Harga murah
OROPHARINGEAL AIRWAY
( MAYO TUBE )
Berguna untuk :
1. Mencegah lidah melekat pada dinding posterior pharing
2. Mempermudah penghisapan lendir
3. Mencegah ETT tergigit
INTUBASI
INDIKASI :
a. Henti Jantung
b. Pasien sadar tapi ventilasi tidak adekuat
c. Pasien tidak dapat mempertahankan jalan nafas yang adekuat
d. Penolong tidak mampu memberikan ventilasi adekuat dengan cara konvensional
NASAL KANUL / NASAL PRONG
Keuntungan :
Pemberian O2 stabil dengan laju nafas teratur
Bisa diberikan dalam jangka lama
Pasien bisa bergerak bebas, makan minum, bicara
Efisien & nyaman untuk pasien
PENATALAKSANAAN JALAN NAFAS
A. Memastikan Jalan Nafas Bebas
Mengenali adanya sumbatan jalan mafas
Membebasuan jalan nafas
B. Memberikan Ventilasi Tekanan Positif
Bantuan nafas dari mulut ke mulut
Bantuan nafas dari mulut ke sumhkup
Bantuan nafas dengan memakai bagging
C. Memberikan Bantuan Therapi O2
Sistem Aliran Rendah
Sistem Aliran Tinggi
MEMASTIKAN JALAN NAFAS BEBAS
Mengenali Adanya Sumbatan Jalan Nafas
Sumbatan Jalan Nafas Bag. Atas
Sumbatan Jalan Nafas Bag. Bawah
Membebaskan Jalan Nafas
Tanpa Alat
Dengan Alat
( Oronpharingeal Tube, Nasopharingsal Tube Penghisaban Lendir ( Suction ) dan Intubasi )
!!!!!!!!TERIMA KASIH !!!!!!!!!!
(RN)
...Read More..
Kamis, 26 Januari 2012
FISIKA KEPERAWATAN
Aplikasi ilmu fisika digunakan untuk memahami fungsi tubuh manusia dalam masalah kesehatan dan penyakit; dan pada instrumentasi yang digunakan dalam diagnosa dan terapi.
1. Ketelitian
yaitu pengukuran yang bagaimana memberikan pendekatan untuk memperoleh suatu standar.
2. Kebenaran
yaitu kemampuan pengembalian dari suatu pengukuran tanpa mempedulikan ketelitian dalam pengukuran.
Kesalahan yang terjadi dalam pengukuran antara lain
1. Kesalahan Pemeriksa
2. Kesalahan orang yang diperiksa
FALSE POSITIF
Suatu penyimpangan dimana penderita dinyatakan sakit padahal tidak. Misalnya pada pemeriksaan kadar gula darah. cenderung meningkat jika penderita tersebut baru saja minum air gula.
FALSE NEGATIF
Suatu penyimpangan dimana penderita dinyatakan sehat padahal ia sakit.
Cara Menghindari pengukuran yang salah
1. Pengambilan pengukuran harus teliti dan hati- hati.
2. pengulangan pangambilan sampel
3. Standarisasi alat
4. Kalibrasi alat.
...Read More..
Minggu, 11 Desember 2011
HDN,, apakah ituuu,,,???
Mungkin kebanyakan dari kita merasa asing dengan istilah HDN. HDN atau Hemolytic Disease of New Born atau sering disebut sebagai erythroblastosis fetalis. Eritroblastosis
fetalis terjadi akibat antibody aktif ibu melewati placenta dan
melawan antigen sel darah merah bayi, yang menyebabkan kenaikan angka
penghancuran sel eritrosit. Penyakit ini berlanjut menjadi penyebab
penting anemia dan ikterus pada bayi baru lahir walaupun metode
pencegahan isoimunisasi oleh ibu dengan antigen Rh telah
dikembangkan. Walau telah diidentifikasi telah ada lebih dari 60
macam antigen sel darah merah yang mampu mendatangkan respons
antibody pada resipien yang sesuai, penyakit yang berarti terutama
dihubungkan dengan antigen d grup Rh dan dengan inkompatibilitas
faktor ABO. Kadang-kadang penyakit hemolitik dapat disebabkan oleh
antigen C atau E atau oleh antigen sel darah merah lainnya, seperti
Cw, Cx, Du, K (Kell), m, Duffy, S, P, MNS, Xg, Lutheran, Diego, dan
Kidd. Antibodi anti-lewis tidak menyebabkan penyakit hemolitik.
Penyebab
HDN yang tersering sekarang adalah antibodi imun sistem golongan
darah ABO – yang tersering adalah anti A yang dihasilkan oleh ibu
bergolongan darah O terhadap janin golongan darah A. Walaupun
demikian, bentuk HDN ini biasanya ringan. Beberapa kasus HDN
disebabkan oleh antibodi sistem golongan darah lain seperti
anti-Kell.
Penyakit
hemolitik jarang terjadi pada kehamilan pertama, karena transfusi
darah janin yang Rh positif ke dalam ibu yang Rh negatif cenderung
terjadi dekat waktu persalinan, dan sudah telambat bagi ibu untuk
menjadi tersensitisasi serta memindahkan antibodinya kepada bayi
sebelum persalinan. Kenyataanya 55% ayah Rh positif adalah
Heterozygot (D/d) dan dapat mempunyai anak Rh negatif, dan hanya 50%
kehamilan yang mengalami tranfusi janin-ibu sehingga mengurangi
peluang sensitisasi; seperti pada keluarga kecil, kesempatan
terjadinya hal ini adalah kecil. Akhirnya, kapasitas wanita Rh
negatif untuk membentuk antibodi beragam, beberapa wanita
menghasilkan titer yang rendah walaupun sudah kemasukkan antigen yang
adekuat. Jadi, keseluruhan insidens isoimunisasi ibu Rh negatif yang
beresiko adalah rendah, dengan antibodi terhadap antigen D yang
terdeteksi kurang dari 10% dari mereka yang diteliti, bahkan sesudah
lima kehamilan atau lebih hanya sekitar 5% yang pernah mempunyai bayi
dengan penyakit hemolitik.
Bila
ibu dan ajnin juga tidak cocok, berkenaan dengan golongan A atau B,
ibu sebagian diproteksi terhadap sensitisasi dengan jalan
menyingkirkan sel-sel rh positif secara cepat dari sirkulasi ibu
yaitu melalui anti-A atau anti-Bnya, yang merupakan antibodi IgM dan
tidak melewati placenta. Bial ibu telah tersentisisasi bayi mungkin
menderita penyakit hemolitik . ada kecenderunagn bahwa tingkat
keparahan penyakit Rh menjadi lebih jelek dengan adanya kehamilan
yang berturut-turut. Adanya kemungkinan bahwa bayi pertama yang
terkena sesudah sensitisasi dapat menjadi pertanda terakhir bagi ibu
untuk dapat melahirkan bayi Rh positif , telah menghasilkan usulan
untuk segera melakukan pencegahan sensitisasi apabila hal ini
memungkinkan. Pencegahan demikian terdiri atas injeksi gama globulin
anti-D (RhoGam) pada ibu segera sesudah persalinan setiap bayi dengan
Rh positif.
...Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
